Peran Gender Dalam Penggunaan Narkoba Suntik (Penasun) Perempuan

PENDAHULUAN

 

  1. 1.      Latar Belakang Masalah

Peran dan relasi gender secara langsug maupun tidak langsung mempengaruhi tingkat resiko individu dan kerentanan infeksi HIV. Gender, yang didefinisikan sebagai kumpulan dari kepercayaan, norma, kebiasaan, sikap, dan praktek-prakterk yang menentukan atribut maskulin dan feminin, telah menjadi seperangkat tuntutan sosial tentang kepantasan berperilaku, dan pada gilirannya membedakan hak-hak, akses, kontrol, sumber daya, informasi, dan interaksi seksual (World Bank, 2000).

Pada sekitar tahun 2000, di Indonesia terjadi perubahan yang sanga menyolok pada pola penularan HIV/AIDS, yaitu melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian pada kelompok pengguna narkoba suntik (Penasun). Narkoba menurut Smith Kline adalah zat-zat atau obat yang dapat mengakibatkan ketidaksadaran atau pembisuan dikarenakan zar-zat tersebut bekerja mempengaruhi susunan saraf (Makaro, dkk, 2005). Narkotika dapat menularkan HIV/AIDS bukan karena dalam obat-obatan terlarang itu terdapat virus HIV melainkan karena HIV dapat ditularkan lewat jarum-jarum suntik yang digunakan para pemakai narkotika untuk menyuntikkan obat-obat terlarang yang pernah digunakan oleh orang lain.

Seseorang yang memasukkan jarum suntik kotor yang terdapat sedikit darag orang lain dimana dalam darah itu mengandung HIV ke dalam tubuhnya, maka dia tertular HIV. Orang-orang yang sudah kecanduan obat-obatan terlarang yang tidak menggunakan narkoba suntik juga berisiko tertular HIV/AIDS. Tidak sedikit dari mereka yang menjual seks demi obat-obatan dan uang. Mereka mungkin sangat membutuhkan obat-obatan sehingga mereka berhubungan seks yang tidak aman.

Sampai saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat 500 ribu – 1,3 juta pengguna narkoba suntik (Injecting Drug User-IDU). Pemerintah sudah mengeluarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang Narkotika sebagai upaya untuk meneka angka pengguna maupun pengedar narkotika di Indonesia. Namun sepertinya penyalahgunaan narkotika tetap saja terjadi dan semakin meluas khususnya pengguna narkotika suntik.

Melihat tingginya tingkat pengguna narkoba suntik di Indonesia maka akan bertambah pula kasus HIV/AIDS, karena menurut laporan terakhir Pusat Kajian Pembangunan Masyarakay Universitas Atma Jaya Jakarta menyebutkan 60% pecandu narkoba khususnya pengguna narkoba suntik (penasun) terinveksi HIV (Ragam/ Indonesia, di Antara Epidemi iHIV dan Penasun /http://satudunia.oneworld.net/external/?url=http%3A%2F%2Fwww.kr.co.id%2Fweb%2Fdetail.php%3Fsid%3D150508%26actmenu%3D45).

Di dalam Undang-Undang No.22 Tahun 1997 tentang Narkotika, jarum suntuk sterik masuk ke dalam barang bukti kejahatan. Namun pertukaran jarum suntik juga mempunyai dasar hukum. Yakni, Peraturan Menkokesra RI Selaku Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Nasional No. 2/Per/Menko/Kesra/I/2007 tentang Kebijakan Penanggulangan HIV/AIDS melalui Pengurangan Dampak Buruk Pengguna Narkotika Psikotropika dan Zat Adiktif Suntik.

 

  1. 2.      Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :

“Bagaimana peran gender dalam penggunaan narkoba suntik (Penasun) perempuan”.

 

  1. 3.      Tujuan

Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui peran gender dalam penggunaan narkoba suntik (Penasun) perempuan.

 

  1. 4.      Manfaat

Pembaca dapat mengetahui bagaimana peran gender dalam penggunaan narkoba suntik (Penasun) perempuan, dan dapat membantu dalam meminimalisir penggunaan narkoba suntik (Penasun).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Konsep Peranan

Peranan merupakan aspek dinamis kedudukan. Apabila seseorang melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia menjalankan suatu peranan. Setiap orang mempunyai macam-macam peranan yang berasal dari pola-pola pergaulan hidupnya. Hal ini sekaligus berarti bahwa peranan menentukan apa yang diperbuatnya bagi masyarakat serta kesempatan-kesempatan apa yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Pentingnya peranan adalah karena ia mengatur perilaku seseorang. Peranan menyebabkan seseorang pada batas-batas tertentu dapat meramalkan perbuatan-perbuatan orang lain.

Peranan yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan kemasyarakatan. Posisi seseorang dalam masyarakat merupakan unsur statis yang menunjukkan tempat individu pada organisasi masyarakat. Peranan labih banyak menunjuk pada fungsi, penyesuaian diri dan sebagai suatu proses. Jadi seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peranan. Peranan mencakup tiga hal, yaitu :

  1. Peranan meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan rangkaian peraturan-peraturan yang membimbing seseorang dalam kemasyarakatan.
  2. Peranan adalah suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat sebagai organisasi.
  3. Peranan juga dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat (Soekanto, 2000).

 

  1. 2.      Konsep Narkoba
    1. a.    Pengertian Narkoba

Narkoba merupakan singkatan dari “Narkotika dan Obat-obat Berbahaya”. Banyak istilah kemudia berkembang untuk menyebutkannya, walaupun pada hakekatnya sama saja, seperti Naza (Narkotika, Alkohol, dan zat-zat aditif), NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan zat-zat aditif).

Sehubungan dengan pengertian narkotika, menurut Prof. Sudarto, SH mengatakan bahwa “Perkataan narkotika berasalh dari bahasa Yunani “Narke”, yang berarti terbius sehingga tidak merasa apa-apa (Makaro, 2005)”.

Sedangkan Smith dan Kline dan Frech Clinical Staff mengemukakan definisi tentang narkotika adalah zat-zat atau obat yang dapat mengakibatkan ketidaksadaran atau pembiusan susunan syaraf sentral (Makaro, 2005).

Menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 1997 tentang narkotika, yang dimaksud dengan narkotika adalah zat atau obat, baik yang berasal dari tanaman maupun bukan tanaman, baik sintesis maupun semi sintesis, yang dapat menyebabkan penurunan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan menimbulkkan ketergantungan dan kecanduan (Hudoyono, 2000).

Secara umum, yang dimaksud dengan narkotika adalah sejenis zat yang dapat menimbulkan pengaruh-pengaruh tertentu bagi orang-orang yang menggunakannya, yaitu dengan cara memasukkan ke dalam tubuh             (Prakoso, dkk, 1987). Pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa :

1)    Mempengaruhi kesadaran

2)    Memberikan dorongan yang dapat berpengaruh terhadap perilaku manusia

3)    Adapun pengaruh-pengaruh tersebut dapat berupa :

a)    Penenang;

b)    Perangsang (bukan rangsangan sex;

c)    Menimbulkan halusinasi (pemakai tidak mampu membedakan               antara khayalan, kehilangan kesadaran akan waktu dan tempat)                  (Prakoso, dkk, 1987)

 

Narkoba pada dasarnya merupakan golongan obat-obatan yang bila pemakainya tidak tepat atau disalah gunakan dapat menimbulkan ketergantungan terhadap obat-obatan. Kelompok obat-obaan pada umumnya bekerja pada susunan saraf pusat di otak dan dapat mempengaruhi emosi. Dalam kepentingan madis/pengobatan, obat-obatan ini digunakan untuk menghilangkan rasa sakit, rasa cemas, sukar tidur/insomnia, kelelahan, meningkatkan stamina tubuh/kebugaran dan lain-lain. Istilah narkotika yang dikenal di Indonesia berasal dari bahasa Inggris “narcotics” yang berarti obat bius, yang sama artinya dengan “narcosis” dalam bahasa yunani yang berarti menidurkan atau membiuskan.

 

  1. b.    Penasun

Istilah Penasun berasal dari Pengguna narkoba suntik yang umumnya disebut IDU (Injecting Drug User) yang berarti individu yang menggunakan obat terlarang (narkotika) dengan cara disuntikkan menggunakan alat suntik ke dalam aliran darah.

Penyuntikan narkoba telah menjadi hal yang umum sejak akhir abad 20, dan melibatkan sekitar 5-10 juta orang pada sedikitnya di 125 negara. Di seluruh dunia, narkoba yang umum dipakai melalui suntikan adalah heroin, amfetamin dan kokain, walaupun banyak narkoba lain yang juga disuntikkan, khususnya termasuk obat penenang dan obat farmasi lainnya.

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional telah mengeluarkan Hasil Survey Cepat Perilaku (SCP) Penasun tahun 2010. Dalam palaksanaan SCP untuk panasun, diambil sebanyak 210 penasun dari 7 kota yaitu Medan, Palembang, DKI Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Denpasar dan Makasar. Dari  seluruh responden, 94,4% merupakan responden laki-laki dan 3,6% merupakan responden perempuan dengan rentang usia 17-63 tahun dimana mayoritas pendidikan terakhir responden adalah SMA (64%), kemudian SMP (15,5%) dan Perguruan Tinggi/Akademi (15,3%). Sebagian kecilnya sisanya adalah SD (3,6%) dan tidak taman SD (0,7%).

Hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 90% dari total responden menyuntik dalam sebulan terakhir dan 50,5% dari total responden menyuntik setiap hari. Lebih lanjut ditemukn bahwa sebanyak 73% penasun tidak berbagi alat suntik dalam penyuntikan terakhir dan 61% penasun tidak berbagi alat suntik dalam penyuntikan sebulan terakhir (target SRAN 2010-2014 yaitu 60%).

Kajian mengenai penasun sangat bias gender. Jika Anda (pembaca) diminta untuk membayangkan seorang Penasun, maka kebanyakan dari bayangan yang muncul dalam benak Anda adalah seorang laki-laki penasun – demikian kilah Spittal dan Schechter (2001). Dalam skenario yang muncul, tidak terbayang wajah-wajah lesu perempuan yang kehilangan harapan, ketakutan dan menahan penderitaan untuk dirinya sendiri serta anak-anaknya. Berbagai kajian sejarah hidup perempuan penasun menunjukkan hubungan yang sangat kompleks antara perilaku yang didorong oleh adiksi, seks, pembuangan dan pengucilan serta kekerasan.

Walau diketahui bahwa perempuan Indonesia juga ada yang menjadi penasun, tetapi tidak ada statistik yang memastikan besaran populasi perempuan penasun. Statistik Depkes dan KPA memperkirakan jumlah penasun di tahun 2006 – 2007 sebesar 219 ribu jiwa. Jumlah perempuan penasun diduga tidak kurang dari 10%. Dari laporan dr. Evy Yunihastuti, Koordinator layanan poliklinik Pokdiksus (Jakarta) menunjukkan bahwa dari bulan Januari sampai November 2004 terdapat 635 pasien yang berobat terkait HIV dan AIDS di Poliklinik 85% nya (539) adalah penasun. Dari jumlah tersebut 82 diantaranya perempuan (12.9%). Meskipun demikian, tetap tidak jelas berapa diantara perempuan tersebut yang terinfeksi karena berbagi alat suntik tidak steril. Data yang disebutkan adalah 81.7% menyebutkan terinfeksi dari hubungan seksual dengan pasangannya (http://situs.mitrianti.org/info/2004/ info01.html).  Laporan ini menunjukkan bahwa perempuan penasun mungkin bukan populasi Orang yang Hidup dengan HIV&AIDS (disingkat: ODHA) yang mengakses pelayanan mereka. Memang banyak yang meragukan bahwa perempuan penasun akan menjadi jembatan penyebaran infeksi ke populasi umum karena ada berbagai faktor situasional dan kontekstual yang memisahkan antara perempuan penasun yang bekerja sebagai pekerja seks komersial dengan populasi seks komersial pada umumnya (Godwin, O’Farrell, Fylkesnes, & Misra, 2006). Tetapi seperti dikatakan oleh para pengarangnya, sejarah masih harus membuktikan dirinya sendiri.

Pertama, kajian berbagai penelitian di awal 1990an oleh Selwyn & Gourevitch (1996) menunjukkan betapa pentingnya kita memperhatikan aspek Gender, khususnya perempuan penasun (Female Injecting Drug Users – FIDUs) dalam mengamati epidemi HIV dan AIDS. Walau jumlah infeksi terbanyak masih didominasi oleh laki-laki dan kebanyakan infeksi terhadap perempuan diperoleh melalui hubungan heteroseksual dengan laki-laki penasun. Tetapi di AS diketahui bahwa dua pertiga dari infeksi yang terjadi pada perempuan adalah
akibat langsung dari penggunaan heroin suntik diantara mereka sendiri.

Kedua, dampak sekundernya terhadap anak dan keluarga. Berbeda dengan laki-laki, perempuan mempunyai kemampuan biologis mengandung, melahirkan dan menyusui anak. Infeksi HIV dan AIDS akan berdampak langsung pada kemungkinan anak yang dikandungnya atau anak yang sedang menyusu pada Ibunya. Kelalaian dalam menyusui bayi mempunyai dampak serius dalam mencegah infeksi penyakit pada bayi karena kolustrum Ibunya diperlukan untuk memberikan kekebalan tubuh. Jika Ibunya terinfeksi, maka anak akan
kehilangan kesempatan untuk memperoleh kolustrum tersebut dan jika tetap menyusui akan berisiko tertular HIV. Hal lain yang perlu dipertimbangkan adalah dampak kematian Ibu pada anak-anak yang masih kecil. Walau figur Ibu dan Ayah sama pentingnya, tetapi masing-masing mempunyai fungsi khusus. Dalam budaya tertentu, seperti di Indonesia tanggung jawab untuk mengasuh dan memelihara anak lebih banyak diemban oleh Ibu. Kematian Ibu berarti hilangnya pihak yang memberikan pengasuhan dan pemeliharaan sehari-hari.

Ketiga, perempuan cenderung tidak dikenali atau dicurigai kemungkinan mengidap HIV walau menunjukkan gejala-gejala atau keluhan yang sama dengan pasien laki-laki sehingga sering diketahui statusnya setelah terlambat. Padahal pada waktu yang sama mungkin masih aktif secara seksual atau sedang mengandung.

Keempat, ditemukan bahwa perempuan penasun mempunyai resiko ganda yang disebabkan seks tanpa pengaman (kondom) dan penggunaan narkotika dengan alat suntik yang tidak steril. Penelitian di New York (Bronx) AS menunjukkan prevalensi Sifilis yang tinggi di antara perempuan penasun yang mengidap HIV dan AIDS. Perbedaan gender dalam resiko ini juga ditemukan dalam penelitian di San Fransisco (Evans, Hahn, Page-Shafer, Lum, Stein, Davidson & Moss, 2003). Hal ini dibuktikan juga di Bangladesh yang menunjukkan bahwa 60% perempuan penasun yang melakukan pekerjaan sebagai pekerja seks mempunyai sejarah infeksi Sifilis dibanding mereka yang tidak melakukan seks komersial (36%). Mereka juga lebih sering terlibat seks anal dan berhubungan seks dengan pasangan lebih dari satu (Azim, Chowdhur,Reza, Ahmed, Tuddin, Khan, Ahmed, Rahman, Khandakar, Khan, Sack & Strathdee, 2006).

Kelima, perempuan penasun sering tidak memanfaatkan berbagai fasilitas pengobatan dan perawatan karena berbagai alasan. Salah satunya adalah petugas kesehatan tidak menawarkan pelayanan yang tersedia dengan alasan yang tidak jelas. Demikian pula, jika perempuan tidak mempunyai anak, maka mereka kurang memanfaatkan pelayanan yang ada dibanding jika mereka mempunyai anak – apalagi anak tersebut sakit. Oleh karena itu, studi awal juga menunjukkan bahwa perempuan mempunyai harapan hidup lebih rendah dibandingkan dengan laki-laki jika telah terinfeksi HIV dan AIDS.

 

  1. c.    Narkoba Suntik

Secara umum narkoba suntik adalah penyalahgunaan narkotika yang cara mengkonsumsinya adalah dengan memasukkan obat-obatan berbahaya ke dalam tubuh melalui alat bantu jarum suntik. Narkotika yang dipakai adalah termasuk dalam jenis narkotika yang masuk pada Golongan I yaitu Heroin. Pada kadar yang lebih redah dikenal dengan sebutan putauw dan ini adalah jenis yang paling banyak dikonsumsi oleh para pengguna narkoba suntik (IDU). Heroin didapatkan dari pengeringan ampas bunga apium yang mempunyai kandungan morfin dan kodein yang merupakan penghilang rasa nyeri yang efektif dan banyak digunakan untuk pengobatan dalam obat batuk dan obat diare.

Heroin dapat dihisap, disedot, atau disuntikan. Heroin jarang sekali ditelan karena cara ini tidak cukup efektif. Penggunaan yang paling popular adalah dengan cara memanaskan bubuk heroin di atas kertas aluminium foil dan menghisap asapnya denga menggunakan pipa kecil atau gulungan kertas. Menggunakan jarum suntik juga merupakan cara lain yang sama popularnya denga cara menghisap. Penyuntikan dapat dilakukan dengan menyuntikkan lewat otot (dibawah kulit) atau lewat pembuluh vena (pembuluh darah balik) (Siregar, 2007).

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

  1. 1.      Simpulan

Dari pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan narkoba suntik (penasun) di Indonesia sudah semakin maraknya, dimana efek daripada penggunaan narkoba suntik (penasun) tersebut merupakan gerbang dari penularan HIV/AIDS.

 

  1. 2.      Saran

Sebagai tulang punggung bangsa sekaligus bertanggung jawab atas kemajuan bangsa ini, sudah selayaknya remaja Indonesia bebas dari narkoba. Karena narkoba bisa menggerogoti moral remaja dan merusak generasi muda. Dan juga kepada pemerintah seyogyanya dapat lebih menggerakkan program-program serta kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir penggunaan narkoba.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Hudoyono, Ahmad. 200. Opiat, Masalah Medis dan Penatalaksanaannya. Jakarta Balai Penerbit FKUI

Makaro, Moh. Taufik. 2005. Tindak Pidana Narkotika. Jakarta: Ghalia Indonesia

Prakoso, Djoko dkk. 1987. Kejahatan-Kejahatan yang Merugikan dan Membahayakan Negara. Jakarta : Bina Angkasa

Siregar, Mastauli. 2007. Bahan Ajar, Mata Kuliah Penyalahgunaan Zat dan Penanggulangannya. Medan : USU-FISIP

Soekanto, Soejono. 2000. Sosiologi Suatu Pengantar. Yogyakarta : PT. Grafindo Persada

Departemen Kesehatan RI, Pedoman Pelaksanaan Pengurangan Dampak Buruk Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif, 2006

World Bank, 2000, Laporan Penelitia Bank Dunia: Rangkuman Pembangunan Berperspektif Gendern

Besral, Budi Utomo Andro Prima Zani, 2004. Potensi Penyebaran HIV Dari Pengguna Napza Suntik ke Masyarakat Umum. FKMUI. Depok

Rujukan dari internet berupa buklet penerbit Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan RI

http://www.menegpp.go.id/aplikasidata/index.php?option=com_docman&task=doc_download&gid=256&Itemid=61 (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 07.07).

Rujukan dari internet berupa skripsi oleh Dina Fitriani Lubis

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14951/1/09E01210.pdf (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 07.13).

Rujukan dari internet berupa jurnal oleh Besral, Budi Utomo, Andri Prima Zani

http://journal.ui.ac.id/health/article/download/313/309 (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 07.19).

Rujukan dari internet berupa hasil penelitian oleh KPA Nasional

http://www.aidsindonesia.or.id/download/INSIST.pdf (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 07.23).

http://www.aidsindonesia.or.id/download/IDU-INTUISI.pdf (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 07.46).

http://www.aidsindonesia.or.id/download/GENDER-PUSPAKELUARGA.pdf (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 08.16).

Rujukan dari internet berupa Artikel dari jurnal

http://www.orbit.or.id/2010/08/perlunya-mendorong-sensitivitas-gender.html (diakses pada tanggal 04 Oktober 2012 pukul 08.38).

Tentang Arief Naburju

Arif, itulah nama yang diberikan Ayah dan Ibu ku. Terima kasih Ayah, Terima kasih Ibu.
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s